INTERPRETASI KARAKTER MANUSIA DALAM TEMBANG DOLANAN BERTEMA BINATANG SEBAGAI WUJUD LOCAL GENIUS KEBUDAYAAN JAWA (Kidang)

Oleh Indah Khurniasari

Bojonegoro, 20 Maret 2021

Manusia dan Kekuasaan

Tembang Kidang Talun berasal dari Provinsi Yogyakarta dan diciptakan oleh RC Hardjasoebrata. Raden Cajetanus Hardjasoebrata adalah salah seorang komposer karawitan Jawa pada era 1950 sampai 1970.

KIDANG TALUN

Kidang talun mangan kacang talun

mil kecemil mil kecemil si kidang mangan lembayung

Tikus pithi duwe anak siji

cicit cuit cicit cuit maju perang wani mati

Gajah belang soko tanah sabrang

nuk legenuk nuk legenuk gedhene meh podho gunung

Tembang kidang talun menjelaskan mengenai hewan dan kebiasaannya. Perhatikan arti lagu kidang talun dalam Bahasa Indonesia berikut ini;

Kidang talun (Kijang yang sering berada di ladang)

Mangan kacang talun (makan kacang talun)

Mil-kethemil, mil-kethemil (nyam-nyam-nyam-nyam)

Si kidang mangan lembayung (Si Kijang makan daun lembayung,daun lembayung adalah

sebutan untuk daun kacang panjang dalam masyarakat Jawa)

Tikus Pithi (Tikus kecil/cerurut)

Nduwe anak siji (Punya anak satu)

Cit-cit cuit, cit-cit cuit (Cit-cit cuit, cit-cit cuit)

Maju perang wani mati (Maju perang berani mati)

Gajah belang (Gajah belang)

Saka tanah sabrang (dari tanah seberang)

Nuk-renggunuk, nuk-renggunuk (menjelaskan bahwa jalannya pelan karena berbadan

besar)

Gedhene meh padha gunung (besarnya hampir sama dengan gunung/besar sekali).

Dari arti tembang Kidang Talun di atas kita mendapat deskripsi 3 jenis hewan yaitu: kijang yang suka makan kacang dan daun lembayung, tikus yang suka mencicit, dan gajah yang berbadan besar dan berjalan perlahan. Lagu dolanan yang berjudul Kidang Talun ini digunakan sebagai media pembelajaran dari orang tua kepada anak tentang dunia fauna. Mengenalkan beberapa jenis hewan kepada anak sedini mungkin supaya mereka cinta binatang. Dalam hal ini, manusia dan kesadaran terhadap alam menjadi fokus tersendiri.

Secara khusus tembang dolanan ini memiiki nilai filosofi yang tersembunyi. Kidang talun yang makan kacang panjang dan daunnya (lembayung) menampakkan sifat rusa yang biasanya lincah, namun ditampakkan lebih suka makan daun lembayung dan kacang yang sesungguhnya tidak lazim ditemui di hutan, atau barangkali kidang talun mendatangi permukiman manusia? Kedua adalah metafora tikus pithi (cerurut) yang digambarkan hanya punya anak satu ekor, digambarkan maju berani berperang dan tidak takut mati. Ketiga mengenai konsep gajah belang yang juga sebenarnya tidak lazim, berasal dari tanah seberang dengan badannya yang besar dan hampir sebesar gunung.

Penggambaran tersebut dapat diartikan sebagai karakter manusia yang berbedabeda. Kidang adalah manusia yang tak henti makan kacang dan dedaunan. Di sini tampak adanya sifat serakah atau rakus yang digambarkan oleh kidang talun. Kedua adalah sifatsebaliknyaa, yakni sifat seekor tikus pithi1 menjadi metafora karakter manusia yang patriotis pada bangsa dan negara, disini dikatakan dalam tembang bahwa meski tak bersanak saudara, Si Tikus mau berperang membela negara dan tidak takut mati. Ketiga adalah penggambaran gajah yang berasal dari negeri seberang. Di sini bisa jadi gajah adalah penggambaran dari orang asing/bangsa asing yang berkuasa dengan dengan bentuk fisik yang luar biasa. Di sini dikatakan bahwa gajah mungkin pula menjadi penggambaran tentang manusia yang berkuasa dengan pongahnya menunjukkan kekuatan ataau kebisaannya di hadapan yang lain.

Tembang dolanan ini menjadi khas karena mudah dinyanyikan dan memiliki rima yang mudah diingat. Lagu ini selain memiliki pengetahuan tentang binatang juga memberi

gambaran dengan sifat baik da buruk manusia. Dengan kata lain anak harus meniru sifat tikus yang mesk tampak remeh namun paling rela berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara. Sedangkan rusa dan gajah menjadi contoh buruk perilaku manusia yang serakah dan sombong akibat tampak lebih kuat, lebih besar dan lebih berkuasa.

 

Sumber:

1 Tikus pithi juga disebutkan dalam ramalan Joyoboyo yang ketujuh, yang berisi tikus pithi anoto baris, yag

dimaknai lengsernya orde baru tahun 1998-1999. Masyarakat Jawa menganggap ramalan Joyoboyo menjadi

kenyataan terutama sering dijadikan acuan dalam melihat peta politik dan kekuasaan di Indonesia.(

https://lingkarmadiun.pikiran-rakyat.com/hiburan/pr-661057336/misteri-ramalan-ketujuh-jayabaya-tikus-pithi-anoto-baris-apakah-sudah-terjadi#:~:text=LINGKAR%20MADIUN%20%2D%20Tikus%20Pithi%20Anoto,cita%2Dcita%20untuk%20m